Jan 01,2026 • Abdul Kholiq

KARAKTER ADAALAH (ADIL)

cover thumbnail

PENJELASAN UMUM

1. Karakter

Karakter (akhlak) adalah sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang darinya keluar perbuatan-perbuatan dengan mudah, ringan, tanpa perlu berfikir dan merenung

2. Karakter Nabawiyah

Karakter nabawiyah adalah karakter (akhlak) mulia Nabi H yang berupa sikap, perkataan, atau perbuatan mulia yang tertanam kuat pada diri Nabi H. yang merupakan wahyu dari Allah D.

3. Bakat

Bakat adalah karakter/sifat (akhlak) mulia yang menonjol pada diri seseorang yang menjadikannya berbeda dengan orang lain.

4. Penyimpangan Karakter

Setiap karakter mulia dapat tersimpangkan karena berlebihan (ifraath) dalam mengamalkannya atau melalaikannya (tafriith). Maka penyimpangan bakat seseorang cenderung berlebihan sedangkan karakternya yang lemah cenderung dilalaikannya.

5. Pilar-pilar Karakter Nabawiyah

Pilar-pilar karakter Nabawiyah adalah jenis-jenis karakter (akhlak) mulia yang ada pada diri Nabi.

40 PILAR KARAKTER NABAWIYAH

Himmah / الهمة )bercita-cita tinggi) Ihsaan / الإحْسَان perfeksionis) Izzah / العرة )harga diri) Waqaar / الوقار berwibawa) Azimah / القيمة bertekad kuat( Nasyaath / النشاط )bersemangat

Firaasah / الفراسة berfirasat)

Syajaa'ah / الشجاعة )pemberani(

Ghairah / الغيرة )pencemburu(

Munaafasah / المنافسة )kompetitif(

Nashiihah / النصيحة penasehat(

Fashaahah / الفصاحة )komunikatif(

Nashrah / النصرة menolong(

Juud / الجود dermawan(


Ta'aawun / التعاون )bekerjasama( Ulfah / الألفة )bersatu( Adaalah / العدالة )adil( Wafaa / الوفاء menepati janji(


A. Definisi Karakter 'Adaalah

Karakter 'adaalah adalah karakter yang cenderung bersikap tengah-tengah, tidak berat sebelah, tepat dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan tidak kurang.

B. Motivasi Dalam Karakter 'Adaalah

Tentang karakter 'adaalah banyak terkandung dalam Al Qur'an dan hadits-hadits shahih. Antara lain:

1. Allah D berfirman,

) إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَنِ وَإِيتَايِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran". (QS. An Nahl: 90)

2. Ubadah bin Ash Shamit I mengatakan,

بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صلي الله عليه وسلم عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي عُشْرَنَا وَيُسْرِنَا، وَمَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعَلَى أَنْ لا تُنازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، وَعَلَى أَنَّ تَقُولَ بِالْعَدْلِ أَين كنا، لا تَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لأَئِمٍ

"Kami berbai'at kepada Rasulullah H untuk mendengar dan taat, baik ketika dalam kesulitan maupun dalam kemudahan, dan untuk tidak menggulingkan kekuasaan dari orang yang berwenang terhadapnya, dan mengucapkan dengan adil dimana saja kami berada, kami tidak khawatir dijalan Allah terhadap celaan orang yang mencela"."

3. Dari Abu Hurairah 1, dia berkata, Rasulullah H bersabda,

سَبْعَةٌ يُطِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلُّهِ يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامُ عَدْلُ، وِشَابُّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقُ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابًا في اللَّهِ، اجتمعا عليه وتَفَرَّقا عليه، ورَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وجَمَالِ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ الله، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذكر الله خالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ


"Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu dia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu dia meneteskan air matanya"."

Ibnu Hajar V berkata,

"Imam yang adil didahulukan dari tujuh golongan karena imam yang adil adalah orang yang paling bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, jika dia baik, maka menjadi baiklah seluruh rakyatnya, dan seluruh rakyat meminta naungannya, jika dia berlaku adil maka Allah akan menaunginya dengan naungan-Nya".

C. Teladan Dalam Mengamalkan Karakter 'Adaalah

Praktek tentang 'adaalah telah dicontohkan para pendahulu yang shalih, yang dapat dijadikan Teladan Dalam kehidupan sehari-hari.

1. Keadilan Rasulullah.

a. Rasulullah memenuhi tuntutan keadilan dari seorang sahabat yang bernama Sawad bin Ghaziyyah 1, ketika menyiapkan pasukan perang Badar. Kisah tuntutan keadilan ini dikabarkan oleh Asyyakh dari kaumnya, dia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَدَّلَ صُفُوفَ أَصْحَابِهِ يَوْمَ بَدْرٍ، وَفِي يَدِهِ قدْح يُعَدِّلُ بِهِ الْقَوْمَ، فَمَرَّ بِسَوَادِ بْنِ غَرِيَّة، خَلِيفِ بَنِي عَدِي بْنِ النَّجَّارِ قَالَ ابْنُ هِشَامٍ : يُقَالُ، سَوَّادُ، مُتَقَلَهُ، وَسَوَادُ فِي الْأَنْصَارِ غَيْرُ هَذَا، مُخَفِّفُ - وَهُوَ مُسْتَنْتِلُ مِنَ الصَّفُ قَالَ ابْنُ هِشَامٍ: وَيُقَالُ: مُسْتَنْصِلُ مِنْ الصَّفُ فَطْعِنَ فِي بَطْبِهِ بالقدْحِ، وَقَالَ: اسْتوِ يَا سَوَادُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْجَعْتَنِي وَقَدْ بَعَثَكَ اللَّهُ بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ، قَالَ: "فَأَقِدْنِي". فَكَشَفَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ

HR. Al Bukhari 1423, Muslim 1031 Ibnu Hajar, Fathul baari, 4/59


بَطْنِهِ، وَقَالَ: "اسْتَقِدْ"، قال: فَاعْتَتَفَهُ فَقَتَلَ بَطْنَهُ : فَقَالَ: "مَا حَمَلَكَ عَلَى هَذَا يَا سَوَّادُ"؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، حَضَرَ مَا تَرَى فَأَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ الْعَهْدِ بِكَ أَنْ يَمَسَّ جِلْدِي جِلْدَكَ. فَدَعَا لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَيْرٍ، وَقَالَهُ لَهُ

"Pada hari berlangsungnya pertempuran ketika sedang persiapan pasukan, Nabi mengatur barisan dan meluruskannya, seperti ketika meluruskan shaf-shaf shalat. Saat tiba di tempat Sawad, beliau melihat kalau posisinya agar bergeser, tidak lurus dengan anggota pasukan lainnya. Beliau memukul perut Sawad dengan anak panah sambil bersabda, 'Luruskan barisanmu, wahai Sawad. Tetapi tanpa diduga oleh siapapun, tiba-tiba Sawad berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku, maka berilah kesempatan kepadaku untuk membalasmu (meng-qishash-mu). (Para sahabat terkejut, dan sebagian besar marah dengan ucapan Sawad ini, apalagi Umar bin Khaththab. Nabi sendiri sebenarnya terkejut dengan sikapnya itu, tetapi beliau menenangkan mereka. Sambil menyerahkan anak panah yang dipakai memukul, beliau bersabda, 'Kalau begitu, balaslah wahai Sawad'. Sambil menerima anak panah dari tangan Nabi Sawad berkata, "Wahai Rasulullah, engkau memukulku di perut yang tidak tertutup kain, karena itu hendaklah engkau singkapkan baju engkau. Para sahabat makin marah dengan sikap dan kemauan Sawad yang tidak sepatutnya ini. Tetapi Nabi tetap menenangkan mereka dan memenuhi permintaan Sawad. Setelah beliau menyingkapkan baju beliau, Sawad segera melemparkan anak panah tersebut dan memeluk perut Nabi dengan erat sambil menangis bahagia, sekaligus meminta maaf kepada beliau. Sekali lagi Nabi dibuat terkejut dengan tindakan Sawad yang tidak tersangka sangka ini. Beliau berkata, 'Apa yang kau lakukan ini, wahai Sawad?". Sawad berkata, 'Inilah yang aku inginkan, ya Rasulullah, telah lama aku berharap kulitku yang hina ini bisa bersentuhan dengan kulit engkau yang mulia, dan aku bersyukur bisa melakukannya, semoga ini menjadi saat-saat terakhir dalam hidupku bersama engkau. Nabi tersenyum mendengar jawaban Sawad ini, karena apa yang dilakukannya adalah ekspresi kecintaannya kepada Nabi Segera saja beliau mendoakan kebaikan dan ampunan bagi Sawad",

HR. Abu Nu'aim, dalam Ma'rifatus shahaabah, 3/1404


Meskipun terhadap orang yang dibawah Beliau, tuntutan keadilan tetap Beliau tunaikan.

b. Rasulullah tetap menegakkan hukum meskipun terhadap seorang anggota keluarga bangsawan. Dari Aisyah J, dia berkata,

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الَّتِي سَرَقَتْ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ الْفَتْحِ فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم إِلَّا أَسَامَهُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا وسلم ، فَأَنِي بِهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَلَّمَهُ فِيهَا أَسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَتَلَوْنَ وَجْهُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فقال " أَتَشْفَعُ فِي حَدٌ مِنْ حُدُودِ فَلَمَّا كَانَ الْعَشِيُّ قَامَ رَسُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ . فَلَمَّا . الله " . فَقَالَ لَهُ أَسَامَهُ اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَ الله صلى الله عليه وسلم فَاخْتَطَبَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ " أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدُّ وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَة بنت مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ بَدَهَا " . ثُمَّ أَمَرَ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقُطِعَتْ يدها

"Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata, 'Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah, siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah?". Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah, hingga berubahlah warna wajah Rasulullah. Lalu Beliau bersabda, 'Apakah kamu hendak memberi syafa'ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?". Usamah berkata, 'Mohonkan aku ampunan wahai Rasulullah'. Kemudian sore harinya Rasulullah berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda, 'Amma ba'du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya".

HR. Al Bukhari 3475, Muslim 1688


2. Keadilan Umar bin Khaththab 1.

a. Dari Atha' I, dia berkata,

كان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يأمر عماله أن يوافوه بالموسم، فإذا اجتمعوا قال أيها الناس، إني لم أبعث عمالي عليكم ليصيبوا من أبشاركم ولا من أموالكم، إنما بعثتهم ليحجزوا بينكم، وليقسموا فيئكم بينكم. فمن فعل به غير ذلك فليقم. فما قام أحد إلا رجل واحد قام فقال يا أمير المؤمنين، إن عاملك فلانا ضربني مائة سوط. قال: فيم ضربته ؟ قم فاقتص منه. فقام عمرو بن العاص فقال : يا أمير المؤمنين إنك إن فعلت هذا يكثر عليك ويكون سنة يأخذ بها من بعدك. فقال: أنا لا أقيد وقد رأيت رسول الله يقيد من نفسه. قال: قدعنا فلنرضه. قال: دونكم فارضوه فافتدى منه بمائتي دينار كل سوط بدینارین

"Umar bin Khaththabi memerintahkan para pegawainya dari berbagai daerah untuk menemuinya setiap musim. Ketika orang-orang berkumpul, maka Umar berkata, 'Wahai manusia, sesungguhnya aku mengutus para pegawaiku bukan untuk menyiksa diri kalian dan mengambil harta-harta kalian, tetapi aku mengutus mereka hanyalah untuk mencegah sesuatu terjadi diantara kalian dan membagikan harta rampasan perang diantara kalian. Barang siapa yang tidak diperlakukan demikian maka silahkan berdiri. Maka tidak ada yang berdiri kecuali seorang laki-laki dan berkata, 'wahai Amirul mukminin, sesungguhnya pegawaimu yang bernama fulan telah memukulku dengan seratus cambukan. Umar bertanya kepada pegawainya, 'Mengapa kamu memukulnya?, berdirilah dan laksanakan pembalasan. Maka Amr bin Ash berdiri dan berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, jika engkau lakukan ini maka akan banyak orang yang datang kepadamu dan akan menjadi tradisi bagi orang-orang setelahmu. Umar berkata, "Aku tidak meminta dia melakukan pembalasan, sementara aku melihat Rasulullah telah meminta dirinya untuk dibalas'. Dia berkata, 'Biarkanlah kami untuk menjadikan dia ridha. Maka Umar berkata, Silahkan jika dia ridha'. Lalu mereka berhasil menjadikan orang yang mengadu tadi ridha. Kemudian pegawai yang memukul tadi menebusdengan dua ratus dinar, dengan perhitungan setiap cambukan diganti dengan dua dinar"."




b. Ketika Umar bin Khaththab diberi mahkota Kisra dan pilar-pilarnya, dia mengatakan,

إِنَّ الَّذِي أَدَّى هَذَا لَأَمِينُ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : أَنَا أُخْبِرُكَ، أَنْتَ أَمِينُ اللهِ، وَهُمْ يُؤَدُّونَ إِلَيْكَ مَا أَدَّيْتَ إِلَى اللهِ، فَإِذَا رَتَعْتَ رَتَعُوا، قَالَ: صَدَقْتَ

"Sesungguhnya orang yang membawa harta rampasan perang ini kemari benar-benar tepercaya. Maka seseorang berkata kepada Umar, Aku katakan kepadamu bahwa kamu adalah kepercayaan Allah.

Mereka menyampaikan harta rampasan ini kepadamu selama kamu (jujur) menyampaikannya kepada Allah. Jika kamu (berkhianat) dengan mementingkan diri sendiri akan harta itu, niscaya mereka pun akan mementingkan diri dengan harta itu. Umar berkata, 'Benar sekali ucapanmu, Kemudian Umar pun membagi-bagikan harta itu"."

3. Keadilan Ali bin Abi Thalib 1.

a. Sahabat yang mendapatkan gelar "adil" adalah Ali bin Abi Thalib 1. Rasulullah bersabda,

أَرْأَبُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ .... وَأَقْصَاهُمْ عَلِيٌّ

"Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar ... dan yang paling adil adalah Ali".

b. Dari Ali bin Abi 1, dia berkata, "Rasulullah mengutusku ke Yaman, maka aku berkata kepada Beliau, 'Wahai Rasulullah, engkau mengutusku kepada suatu kaum yang lebih tua dari pada aku agar aku memutuskan perkara diantara mereka'. Maka Rasulullah bersabda,

اذْهَبْ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى سَيُنَيِّبُ لِسَانَكَ وَيَهْدِي قَلْبَكَ

"Pergilah, karena sesungguhnya Allah akan meneguhkan lisanmu dan membimbing hatimu"."

9

HR. Ibnu Sa'ad, dalam Ath Thabaqaatul Kubraa, 3/293 HR. Al Baihaqi, dalam As Sunanul Kubraa, 13033 Dishahihkan oleh Al Albani, dalam Shahihul jomi', 868 HR. Ahmad 1/88, An Nasa'i 35



D. Kepribadian Orang Yang Berbakat 'Adaalah

Orang yang berbakat 'adaalah memiliki sifat antara lain:

1. Tidak berat sebelah itu penting baginya.

2. Benar-benar sadar akan perlunya untuk memperlakukan semua orang secara adil, apapun jabatan mereka, sehingga tidak berpihak pada kepentingan satu orang tertentu saja.

3. Kesetaraan adalah hal yang diperjuangkannya.

Orang berbakat 'adaalah akan mengatakan kepada dirinya sendiri:

1. Aku lebih tertarik dalam kelompok dari pada individual

2. Aku akan meredam perbedaan dan menumbuhkan kesamaan

3. Aku memiliki aturan dan kebijakan

4. Aku membutuhkan prosedur operasional standar (aturan baku/SOP) sebagai pedomanku.

5. Aku suka mengulang-ulang sesuatu dengan cara yang persis sama, yang penting sesuai aturan yang ada.

6. Aku tidak suka ada seseorang yang dispesialkan dari yang lain.

7. Aku bersemboyan bahwa aturan lebih penting dari pada relasi dan hasil.

8. Aku dijuluki sebagai orang yang monoton.

Kepribadian pada anak-anak:

Anak patuh mengikuti aturan yang sudah ditetapkan dan tidak suka adanya pembedaan hak dalam hubungan pertemanan.

E. Profesi Yang Sesuai Dengan Bakat 'Adaalah

Bakat ini merupakan salah satu bakat yang banyak terdapat pada peran: Hakim, Petugas pembinaan keluarga, Konselor masalah keluarga, Mediator, Petugas kontrol terhadap kesesuaian atas standar seperti kepatuhan kepada aturan, Quantity Surveyor, Petugas Commisioning atau peran yang bisa memiliki kekuatan untuk menyamakan aturan main dan peran lainnya yang terkait dengan sifat adil.



F. Jurusan Studi Yang Sesuai Dengan Bakat 'Adaalah

Jurusan studi yang sesui untuk bakat adaalah, antara lain: Hukum Islam, Syariah, Konseling keluarga, Hukum Publik, Hukum Perdata, Hukum Internasioanal, Ilmu Hukum, Hukum Pidana, atau jurusan lainnya yang terkait dengan keadilan.

G. Potensi Penyimpangan Karakter 'Adaalah

Orang yang karakter paling dominannya adalah karakter 'adaalah, jika berlebihan dapat terjerumus pada sifat tercela jahl )الجهل( (kebodohan), yaitu ketiadaan pengetahuan sehingga menganggap yang dilakukan adalah adil, tetapi sebenarnya yang dilakukannya bukanlah keadilan.

Sedangkan orang yang karakter terlemahnya adalah 'adaalah, jika meremehkan akan berpotensi terjebak pada sifat tercela zhulm ( الظلم( )zhalim), yaitu berbuat tidak adil atau berat sebelah dalam bersikap dan bertindak sehingga merugikan orang atau pihak lain.

H. Memperbaiki Karakter 'Adaalah Yang Tersimpangkan

Sifat tercela jahl )الجهل( )kebodohan) yang ditimbulkan akibat berlebihan dalam karakter 'adaalah, dapat diperbaiki dengan menguatkan karakter syajaa'ah, munaafasah, dan ghairah.

Sedang sifat tercela zhulm الظلم( )zhalim) yang ditimbulkan akibat meremehkan karakter 'adaalah, dapat diperbaiki dengan menguatkan karakter 'adaalah itu sendiri dan karakter lainnya, yaitu antara lain

karakter itsaar, rahmah, shabr, hilm, anaah, dan amaanah.

I. Cara Menghadapi Orang Yang Berbakat 'Adaalah

Jangan bersikap kepadanya atau memperlakukan orang lain dihadapannya dengan perlakuan spesial, karena baginya semua orang harus diperlakukan sama.

Mintalah pendapat kepadanya tentang apa yang akan Anda lakukan tentang pembagian tugas kepada anggota team, pembagian bonus atau reward dari hasil kerja, atau hal lainnya yang menggunakan prinsip keadilan.




Ajaklah dia untuk ikut terlibat pada kegiatan yang terkait dengan hal tersebut.


J. Perbedaan Bakat ‘Adaalah Dengan Bakat Lainnya


‘Adaalah Seimbang itu ada di tengah-tengah
| Rifq  | Seimbang itu ada di manapun
‘Adaalah Meletakkan sesuatu pada tempat yang tepat
| Kitmaanus sirri  | Menyimpan sesuatu pada tempat yang tepat
‘Adaalah Tidak suka sesuatu yang dispesialkan
| Mahabbah  | Menyukai sesuatu yang dispesialkan

K. Pembelajaran Karakter


Other News You
Might Be Interested

Setiap orang itu berbakat, karena setiap manusia terlahir dalam keadaan membawa potensi hebat yang dapat dijadikan sebagai bekal bagi dirinya untuk mengemban misi besar dalam hidupnya.

- Abdul Kholik